Dukung Penutupan Tanjung Batumerah, Waka DPRD: Tergantung Pemerintah

AMBON,MRNews.com,- Majelis Ulama Indonesia (MUI), ustad dan imam masjid se-Kota Ambon meminta pemerintah agar menutup lokalisasi tanjung Batumerah, Kota Ambon. Langkah itu dukung Kapolres Pulau Ambon dan Pp Lease, AKBP Sutrisno Hadi Santoso yang berjanji akan menindaklanjuti ke Walikota Ambon jika ada surat permohonan atau rekomendasi. Hal itu pun mendapat dukungan dari Wakil Ketua DPRD Kota Ambon, Ely Toisuta.

Menurut Ely, sebagai pribadi dan institusi DPRD, pihaknya mendukung upaya penutupan lokalisasi tanjung Batumerah yang diminta MUI dan tokoh agama Islam baik sementara karena bertepatan dengan bulan suci Ramadhan atau permanen, sepanjang itu baik. Namun, tergantung kepada pemerintah kota (Pemkot) Ambon yang punya kewenangan penuh atas lokasi itu. Karena memang DPRD dan pihak manapun hanya bisa mendorong, memberi sumbang saran tapi domainnya di pemerintah.

“Sebagai pribadi dan institusi, kami dukung penutupan lokalisasi tanjung Batumerah baik sementara maupun permanen sepanjang memang alasannya tepat dan baik tak saja karena bertepatan dengan Ramadhan. Tapi semuanya tergantung pemerintah. Kalau tutup solusinya bagaimana untuk mereka yang bekerja dan tempat itu. Karena para pekerja di lokalisasi itu tak hanya ansi orang Ambon tapi juga warga luar,” tukas Toisuta kepada awak media di Balai Rakyat Belakang Soya, Jumat (10/5/19).

Menurutnya, jika langkah itu sudah dimulai MUI, tokoh agama Islam dan bakal disikapi Polres, maka tergantung pemerintah berkoordinasi lanjut dengan stakeholder lain. Karena bisa saja pasca penutupan, warga akan mempergunakan penginapan-penginapan melati untuk prostitusi liar. Padahal semua pihak berkepentingan meminimalisir meningkatnya prostitusi dan penyebaran HIV/AIDS yang tinggi di kota Ambon.

“Memang tidak mudah langkah menutup lokalisasi. Pemerintah juga pasti punya pendekatan dan karenanya perlu koordinasi. Tentu demi kepentingan bersama. Karena pertanyaannya kemudiaan, apakah dengan menutup itu lalu masalah selesai, tidak juga. Fenomena lokalisasi ini khan juga terjadi di beberapa daerah. Faktanya di Doli Surabaya, yang besar dan terkenal di Indonesia bisa ditutup permanen dengan pendekatan oleh Walikota. Masa di Ambon tidak bisa. Berpulang kepada pemerintah intinya, DPRD dukung apapun itu,” pungkasnya. (MR-02)

News Reporter

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *