Dua Koruptor Dana BOS SMA Dua Namlea Divonis

AMBON,MR.-Dua terdakwa korupsi dana BOS Sekolah SMA Negeri 2 Namlea divonis hakim pengadilan Tipikor pada Pengadilan Negeri (PN)  Ambon dengn hukuman satu tahun enam bulan (1,6) penjara.

Putusan hakim tersebut dibacakan dalam persidangan yang diketua majelis hakim Tipikor,Jimmy Waly,pada sidang,Selasa (8/5).

Menurut majelis dalam amar putusannya menyatakan terdakwa Ramly Toto dan Samsul Rahman terbukti secara sah melakukan tindak pidana korupsi sebagaimana diatur melanggar pasal 3 Undang-Undang nomor 31 tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan UU nomor 20 tahun 2001 tentang korupsi, juncto pasal 55 ayat (1) ke-1 KUH Pidana sebagai dakwaan subsider.

“Mengadili dan menjatuhkan pidana kepada terdakwa dengan pidana penjara selama satu tahun enam bulan penjara dipotong terdakwa berada dalam masa tahanan,”Kata Jimmy Waly dalam amar putusannya.

Selain pidana badan dua terdakwa yang adalah mantan kepala sekolah dan bendara sekolah pada Sekolah SMA negeri dua itu juga dibebankan membayar denda sebesar Rp.50 juta subsider satu bulan kurungan.

“Hal meringankan terdakwa bersikap sopan dipersidangan,terdakwa memiliki tanggungan keluarga dan juga menyesali perbuatannya. sementara hal memberatkan perbuatan terdakwa tidak mendukung program pemerintah dalam memberantas korupsi,”Imbuhnya.

Terkait putusan majelis hakim menurut JPU dan juga kuasa hukum terdakwa menerima putusan tersebut.

“Karena JPU dan Kuasa hukum menerima putusan ini.maka keputusan ini dinyatakan inckrah,”Pungkas Hakim.

Diketahui sebelumnya  dua terdakwa kasus dugaan korupsi dana BOS dan Bosnas SMA Negeri 2 Namlea, Kabupaten Buru, Tahun anggaran 2014 dan 2015 dituntut dua tahun  penjara oleh jaksa penuntut umum Kejari Namlea, Wenny Relmasira, pada sidang  Bulan April kemarin.

Menurut JPU, Ramly Toto yang merupakan mantan Kepsek juga dituntut membayar denda Rp50 juta subsider dua bulan kurungan dan membayar uang pengganti sebesar Rp399 juta.

Untuk  rekannya Samsul Rahman yang merupakan bendahara SMAN 2 Namlea dituntut membayar denda Rp 50 juta subsider dua bulan kurungan dan uang pengganti Rp 102 juta subsider satu tahun kurungan.

JPU juga mengatakan, terdakwa Ramly saat diperiksa telah mengembalikan uang Rp. 348 juta sedangkan bendaharanya mengembalikan Rp. 83 juta.

Sesuai dakwaan JPU, Pada tahun 2014 SMAN 2 Namlea mendapatkan alokasi dana BOS Nasional sebesar Rp1,3 miliar, kemudian semester I tahun 2015 sebesar Rp835, 2 juta sehingga total dana yang diperoleh Rp. 2,1 miliar.

Kemudian sekolah tersebut mendapatkan kucuran dana BOS Daerah sebesar Rp. 322,  3. juta untuk tahun 2014, dan semester I tahun 2015 Rp. 337,5 juta sehingga totalnya Rp. 659,8 juta untuk membiayai operasional sekolah.

Selanjutnya terdakwa Samsul Rahman mengajukan permintaan dana secara lisan kepada terdakwa Ramly Toto lalu diberikan namun mereka tidak melakukan pencatatan terhadap penyerahan dan penerimaan dana tersebut. Terdakwa Samsul Rahman hanya melakukan pencatatan pada buku kas pengeluaran.

Mereka juga tidak memisahkan pencatatan untuk masing-masing sumber dana sehingga tidak dapat diketahui jumlah dana BOSNAS dan dana BOSDA yang telah digunakan.

Dana BOSNAS dan BOSDA tahun 2014 dan semester I tahun 2015 dikelola dan digunakan langsung oleh terdakwa Ramly Toto tanpa sepengetahuan terdakwa Samsul Rahman.

Ketika terdakwa Samsul Rahman membuat laporan pertanggungjawaban, berdasarkan bukti pengeluaran yang ada, ternyata berbeda dengan jumlah dana BOSNAS dan BOSDA yang telah diterima SMAN 2 Namlea.

Sehingga terdakwa Ramly Toto memerintahkan Samsul Rahman untuk membuat laporan pertanggungjawaban yang nilainya sudah dimark-up dan membuat kuitansi dan nota fiktif.(MR-07).

News Reporter

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *