by

Dihantam Pandemi, Tingkat Ketimpangan Pengeluaran Penduduk Maluku Naik

AMBON,MRNews.com,- Salah satu ukuran ketimpangan yang sering digunakan adalah Gini Ratio. Nilai Gini Ratio berkisar antara 0-1. Semakin tinggi nilai Gini Ratio menunjukkan ketimpangan yang semakin tinggi.

Secara umum, pada periode September 2015-September 2021, Gini Ratio di Maluku
mengalami penurunan. Kondisi ini menunjukan bahwa selama periode tersebut terjadi perbaikan pemerataan pengeluaran di Maluku.

Namun demikian, akibat adanya Covid-19
nilai Gini Ratio kembali mengalami kenaikan pada September 2020. Gini Ratio Maluku pada September 2021 tercatat sebesar 0,316, naik 0,002 poin dibanding keadaan Maret 2021 tercatat sebesar 0,314.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Maluku Asep Riyadi menjelaskan, berdasarkan daerah tempat tinggal, Gini Ratio di daerah perkotaan pada September 2021 adalah sebesar 0,302.

Hal ini menunjukkan terjadi kenaikan sebesar 0,001 poin dibanding Maret 2021 yang sebesar 0,301 dan meningkat sebesar 0,010 poin dibanding September 2020 yang sebesar 0,292.

“Untuk daerah perdesaan, Gini Ratio pada September 2021 tercatat 0,250, turun 0,008 poin dibandingkan dengan kondisi Maret 2021 dan 0,035 poin dibandingkan kondisi September 2020. Gini Ratio di daerah perdesaan pada Maret 2021 dan September 2020 masing-masing tercatat 0,258 dan 0,285,” bebernya.

Selain Gini Ratio, kata dia, ukuran ketimpangan lain yang sering digunakan adalah persentase pengeluaran pada kelompok penduduk 40 persen terbawah atau yang dikenal dengan ukuran Bank Dunia.

Berdasarkan ukuran ini, tingkat ketimpangan dibagi menjadi 3 kategori, yaitu tingkat ketimpangan tinggi jika persentase pengeluaran kelompok penduduk 40 persen terbawah angkanya di bawah 12 persen, ketimpangan sedang jika angkanya berkisar antara 12–17 persen, serta ketimpangan rendah jika angkanya berada diatas 17 persen.

“Pada September 2021, persentase pengeluaran pada kelompok 40 persen terbawah di Maluku adalah sebesar 21,06 persen yang berarti ada pada kategori ketimpangan rendah,” tandasnya di Ambon, Selasa (18/1).

Kondisi ini sebutnya, menurun dibandingkan dengan Maret 2021 yang sebesar 21,28 persen dan meningkat
dibandingkan dengan September 2020 sebesar 20,63 persen.

Jika dibedakan menurut daerah, pada September 2021 persentase pengeluaran pada kelompok penduduk 40 persen terbawah di daerah perkotaan sebesar 22,35 persen.

Sementara persentase pengeluaran pada kelompok penduduk 40 persen terbawah di daerah perdesaan tercatat 24,49 persen.

“Dengan demikian, menurut kriteria Bank Dunia, daerah perkotaan dan perdesaan di Maluku termasuk ketimpangan rendah,” pungkasnya. (MR-02)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed