CENGKEH PALA: Renungan Jelang 202 Tahun Pattimura (1)

Oleh : Pendeta Elifas Tomix Maspaitella, MSi (Sekretaris Umum MPH Sinode GPM)

AMBON,MRNews.com,- Apa isu atau kalimat yang mengesankan anda dari perjuangan Kapitan Pattimura? Beta mencoba menuangkan sedikit ide dan harapan untuk direnungi bersama, dan semoga semangat Obor Pattimura terus menyala di sanubari kita.

Beta memulainya dengan cengkeh pala. Diksi ini unik, karena lazim, sejak purbakala, disebut cengkeh pala, bukan cengkeh dan pala. Walau beta mengetahui bahwa cengkeh pala bukanlah jenis rempah-rempah baru, sebagai hasil clooning cengkeh dan pala. Sebenarnya adalah cengkeh dan pala, dua jenis rempah, yang oleh Leonard Andaya dan Gavin Menzies, dalam buku mereka masing-masing, sudah terkenal di pasar Eropa dan Timur Tengah sejak abad ke-2 atau sebelumnya di zaman Sebelum Masehi.

Cengkeh pala, dalam catatan Menzies, ditemukan secara tidak sengaja oleh para pelaut Cina, sekembalinya mereka dari pulaunya kaum Aborigin, tepatnya di Arnhem Land (Australia).

Di bawah, beta membagi link tulisan beta tentang itu, agar bisa dibaca lebih lanjut. Di sini beta mau memahami cengkeh pala sebagai suatu istilah di satu sisi dan sebagai potensi kekayaan alam di sisi lainnya.

I. CENGKEH PALA: ISTILAH DAN IDENTITAS

Sebagai istilah maka penyebutan cengkeh pala menegaskan bahwa kedua jenis rempah-rempah itu telah menjadi bagian dari pemaknaan diri orang Maluku. Itu merupakan milik yang melekat serta memberi status tersendiri kepada masyarakat di kepulauan Maluku. Semisal Cengkeh Apo, sebagai pohon cengkeh tertua, ada di Maluku Utara. Bukan buahnya yang menjadikan bangga, tetapi tegak dan umur panjang pohon itulah menjadi semacam semangat yang memberi rasa kehormatan kepada masyarakat.

Sebab itu, menyebut cengkeh pala sama dengan menyebut Maluku atau sebaliknya. Secara semantik, penyebutan Maluku Negeri Cengkeh Pala menegaskan penjatidirian tadi secara komunal. Dengan kalimat lain, Maluku (awal mula) dikenal sebagai “pulau (penghasil) cengkeh pala”.

Hal itu harusnya membentuk ekotipe atau semacam mental berkebun orang Maluku untuk melestarikan dua tanaman rempah ini dan memandang keduanya bukan sekedar sebagai tanaman khas (endemik) melainkan tanaman sakral yang padanya melekat jatidiri masyarakat. Ibarat bila di dusun tidak ada cengkeh pala, bukan Maluku namanya.

Beta yakin, monopoli cengkeh pala oleh VOC, bukan hanya memiskinkan petani di Lease, melainkan merontokkan jati diri mereka. Karena itu perjuangan yang dipimpin Kapitan Pattimura (1817) adalah penegasan tentang jatidiri itu. Jangan rampas cengkeh pala, sebab itu sama dengan merampas harkat Maluku.

Pada sisi itu, segala potensi sumber daya alam yang melimpah ruah di Maluku harus dijaga sebagai bagian dari menjaga jatidiri, bukan digadaikan, bukan dijual, apalagi dipindahtangankan.

Maka pembangunan Maluku ke depan harus advokatif (secara utuh: perlindungan hak warga, juga perlindungan terhadap alam/potensi SDA dan lingkungan hidup).

II. CENGKEH DAN PALA: Saatnya Maluku Balumpa Maju

Menyebut cengkeh dan pala, dengan kata hubung “dan”, berarti sumber daya alam di Maluku bukan cengkeh saja, tetapi juga pala. Namun dengan kata hubung “dan” itu, mengandung makna pula bahwa bukan cengkeh dan pala saja, tetapi juga dan lain sebagainya. Jadi menyebut kepulauan Maluku sebagai kepulauan yang kaya, berarti di semua laut, dalam laut, pulau, tanah, dalam tanah, dan udara, Maluku kaya.

Biarlah Bappeda Maluku dan Bappeda di masing-masing Kabupaten/Kota mempresentasi data kekayaan alam masing-masing. Itu tentu tidak harus membentuk rasa bangga an-sich, melainkan manajemen pengelolaan yang integratif di mana konektifitas semua sektor dan sub sektor berjalan sinergis.

Gugus pulau kini memerlukan “tali gamutu” untuk menyambungnya.

Sebab saat Kapitan Pattimura mau berjuang, dia mengundang Saniri Negeri dari semua negeri di Lease agar mengirimkan kapitan-kapitan mereka yang kabaresi. Sinergitas itu kuat karena dibangun dari nyali untuk majo, balumpa meti dan tembok benteng.

Ini bukan sekedar bargaining posisi, sebab mereka kalah jumlah dan peralatan. Ini soal “bakutongka par torana demi kebaikan”. Itu perlu nyali dan kasih diri dipimpin. Sebab tanpa itu, kekayaan kita diambil dan kita hanya bisa “bakanor” (barsungut dalang hati tagal takotang sombar) dan “nganga” (tagal su tar tau mau biking apa).

Mereka yang berjuang di 1817 tidak seperti itu. Mereka “hati tar manahang” tagal lia penjajah ba-ator sasabarang, lalu barampas (monopoli).

Jadi, jangan lagi persoalkan jumlah kita sedikit, atau karena DPR RI cuma 4 kursi, DPD RI lai 4 kursi, lalu jumlah penduduk sacubi sa kalu rekeng deng penduduk di Jawa.

Yang antua Thomas dong biking dolo-dolo tuh tar pake rekeng ada brapa orang, mar dong brekeng hidop ana cucu. Hasil ada maliong, kalu dong rekeng orang, bilang dong beta cengkeh, beta pala, beta sagala ikang, beta sagala lola, beta sagala taripang, beta sagala mutiara, beta sagala karaka, beta sagala kayo di utang-utang, loko bilang lai beta minya, gas deng samua yang ada juta-juta anam nih.

He’e nih….

LAWA’MENA HAU’LALA

(bersambung)

News Reporter

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *