Bupati SBB Dinilai Anggap Remeh Konflik Latu-Hualoy

AMBON,MRNews.com,- Merasa resah dengan kinerja Bupati Kabupaten Seram Bagian Barat (SBB), Yasin Payapo dalam menangani konflik yang terjadi di wilayah kekuasaannya antara Negeri Latu dan Hualoy, tokoh pemuda Negeri Latu, Syuaib Pattimura mengaku, lima bulan Latu-Hualoy berkonflik dan belum bisa diselesaikan oleh Pemda menunjukkan kegagalan pimpinan dalam hal ini Bupati Payapo.

“Bupati SBB seperti menganggap remeh konflik antar dua Negeri tetangga ini, sebab sudah lima bulan konflik ini terjadi, belum juga ada langkah atau upaya serius yang dapat meredam konflik kedua Negeri itu. Padahal peran kepala daerah sangat diharapkan atas persoalan ini,” papar Syuaib kepada media ini di Ambon, Kamis (30/5/19).

Akibat tidak adanya langkah serius penanganan konflik dua Negeri tersebut dari Yasin Payapo, lanjutnya, membuat aktivitas antar warga Latu dan Hualoy, yang ada didalam kampung walaupun di perantauan juga menjadi terbatas dan serba was-was.

“Sampai sekarang kita selalu was-was dalam melakukan semua aktivitas, bukan hanya di kampung yang di luar kampung juga merasa tidak nyaman akibat konflik yang belum bisa selesai selama lima bulan bahkan sudah mau masuk enam bulan ini,” terangnya.

Bahkan menurut Syuaib, upaya mediasi yang dilakukan Payapo selama konflik dua Negeri bertetangga selama ini, seperti diibaratkan membuang garam di laut alias sia-sia. Sebab, tidak membuahkan hasil yang bisa dirasakan langsung oleh masyarakat kedua negeri atau para keluarga korban.

“Akar masalah ini berada pada level paling bawah, yaitu masyarakat bukan tokoh masyarakat. Maka diperlukan kehadiran Bupati SBB, yang dapat menyentuh keluarga korban, bukan mengatasi konflik dengan cara memanggil tokoh kedua negeri lalu hadir pada pertemuan-pertemuan kelas mewah. Ini konflik masyarakat bukan konflik tokoh. Memang benar perlu melibatkan tokoh, tapi paling penting adalah masyarakat dan keluarga korban,” ungkapnya.

Tidak hanya itu, konflik yang terjadi selama hampir setengah tahun itu juga merupakan konflik terlama dalam sejarah dua Negeri tersebut. “Bisa terjadi selama ini, merupakan kesalahan Bupati SBB, yang tidak bertindak cepat saat awal mula konflik, beliau tidak menghiraukan sudah terjadi besar dan ada korban baru beliau mau bergerak, itu kan gagal namanya,”ujarnya.

Salah satu upaya yang dilakukan Bupati pekan kemarin tambah dia, hanyalah pertemuan dengan ASN SBB yang notabene warga Latu dan Hualoy. “Ini bukan Persia kecil, membuat pertemuan dengan ASN saja tidak cukup pak Bupati. Mengumpulkan bawahan ASN, antara kedua negeri saja tidak cukup. Tapi harus ada langkah-langkah sentuhan persuasif ke keluarga korban, dan itu dilakukan secara terstruktur agar masalah ini cepat terselesaikan dan kedua negeri bisa kembali normal seperti biasanya,” tutupnya.

Diketahui, konflik antar kampung tetangga yang terjadi di Negeri Latu dan Hualoy kecamatan Amalatu, Kabupaten SBB, sejak Januari 2019 lalu hingga kini belum bisa diselesaikan. Akibatnya, banyak anggapan muncul terkait peran Bupati SBB atas insiden itu. Hingga kini, kedua negeri mayoritas beragama Islam itu telah berkonflik sampai memakan banyak korban, bukan hanya korban nyawa melainkan harta benda kedua warga pun tak luput. (MR-02)

News Reporter

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *