by

Beraksi Sejak 2012, Yayasan Anak Bangsa Pakai 4 Cara Tipu Masyarakat

AMBON,MRNews.com,- Petualangan Josefa Kelbulan dan Lambert Miru yang beraksi sejak tahun 2012 mengatasnamakan ketua dan sekretaris Yayasan Anak Bangsa (YAB) untuk menipu masyarakat di 11 provinsi kawasan Timur Indonesia terhenti di 2021 pasca dilaporkan para korban.

Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Maluku Kombes Pol Sih Harno katakan baik Josefa maupun Miru telah dijebloskan ke penjara dan ditetapkan jadi tersangka. Dari tangan keduanya berhasil disita uang tunai 10 juta dan satu buku rekening BRI berisi Rp 68,149 juta atasnama pribadi Yosefa.

“Keduanya disangkakan melanggar pasal 378 & 372 KUHP dengan ancaman 4 tahun penjara. Untuk sementara baru keduanya tersangka. Soal kemungkinan ada tambahan, nanti kita lihat karena sementara masih berjalan dan dalam pengembangan,” tandas Harno kepada awak media di Rupatama Polda Maluku, Selasa (4/5).

Dijelaskan, empat cara dipakai keduanya untuk menipu masyarakat dengan meraup untung sepihak dibarengi janji manis. Pertama, tender relawan; penyetor dana 250 ribu akan dapat bantuan/kompensasi 15 juta.

Kedua; tender rumah ibadah. Penyetor 1 juta akan dapat 50 juta. 30 juta disumbangkan untuk rumah ibadah dan 20 juta dimiliki penyetor. Ketiga, tender relawan 45. Janjinya, penyetor 1 juta akan mendapat kompensasi 45 juta. Terakhir, tender relawan lepas. Dimana penyetor dana 1 juta bakal diberikan bonus 100 juta.

“Modus operandi Josefa dan Lambert adalah mendirikan YAB pada 2002. Mereka sampaikan ke masyarakat, YAB mendapat donor dana dari 6 negara yaitu Australia, Singapura, Thailand, Prancis dan Amerika. Bila ingin menyetor dana ke yayasan, maka akan mendapat bantuan,” jelasnya.

Terkait perkara ini, kata dia, pelapor ada 5 orang selaku korban dan sudah diperiksa. Kelimanya merasa dirugikan karena sudah setor ke yayasan sebanyak Rp 535 juta. Mereka bagian dari 350 relawan di 11 provinsi yang sudah dirugikan Yayasan Anak Bangsa.

Selain di Polda Maluku, sebutnya, Polres Tanimbar juga sudah pernah tangani masalah serupa. Dengan pelapor/korban 16 orang dengan kerugian Rp 335 juta. Artinya, Yosefa Kelbulan termasuk Residivis karena pernah diputus dua kali pengadilan melakukan penipuan-penipuan.

“YAB sudah berbadan hukum. Tapi sebenarnya tidak boleh tarik bantuan dari masyarakat apalagi dengan janji-janji, itu masuk kategori penipuan. Mereka hanya boleh mendapat hibah, wakaf, atau sumbangan yang tidak mengikat atau buat usaha yang berbadan usaha,” tegasnya.

Kabid Humas Polda Maluku Kombes Pol M Rum Ohoirat tambahkan, selain menyetorakan dana ke YAB, mereka juga merekrut nasabah dari luar. Jadi diperkirakan korban bukan 350 orang saja tapi bisa jadi lebih banyak berasal dari 11 provinsi baik Papua, Papua Barat, Maluku Utara, Sultra, Sulut, NTT, Maluku, Sulsel.

“Mereka sementara berada di Ambon untuk meminta kompensasi. Namun sejak operasi, belum ada kompensasi dari yayasan kepada relawan/korban. Sejak 2012 kedua tersangka pakai YAB namun dokumen akta notaris baru terbit 2020. Jadi sebelumnya tanpa ada legalitas,” urai Ohoirat.

Sebabnya, tambah Ohoirat, dihimbau kepada masyarakat untuk yang merasa dirugikan oleh YAB ini agar dilapor kepada kepolisian setempat agar ditindaklanjuti. Karena telah dibuka pos pengaduan di Polda maupun Polres jajaran diwilah hukum Polda Maluku. (MR-02)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed