by

Bangun Ketangguhan, Literasi Sejarah Kebencanaan Indonesia Sangat Penting

AMBON,MRNews.com,- Dalam upaya membangun dan memperkuat ketangguhan guna mengurangi resiko bencana, maka literasi sejarah kebencanaan di Indonesia sangat penting diketahui seluruh pihak sebagai warisan bagi masa kini dan nanti.

Deputi Bidang Sistem & Strategi BNPB Raditya Jati mengatakan, tanggungjawab dari pemerintah terutama masyarakat penanggulangan bencana adalah bagaimana mensosialisasikan, memberikan kesadaran secara kolektif kepada masyarakat bahwa lokasi tempat tinggalnya ada di kawasan yang ancaman bencana cukup besar.

Tidak hanya di Maluku, tapi menurutnya, diseluruh wilayah Indonesia memiliki potensi resiko bencana cukup tinggi. Pasalnya dari karakteristik kepulauan, terbentuk karena fenomena alam atau proses geologi yang berakibat pada gempa dan membuat korban jiwa, warga terdampak, kerugian sosial ekonomi serta kerusakan infrastruktur.

“PR kita bersama adalah masyarakat di kawasan resiko tinggi bencana, mereka tahu apa saja ancaman prioritas. Serta bagaimana upaya menyelamatkan diri, kesiapsiagaan dan kesiapan menghadapi bencana,” tandas Raditya disela seminar internasional literasi sejarah kebencanaan 2021 di Amaris Hotel Ambon, Rabu (13/10).

Kejadian bencana tsunami dan gempa bumi dibeberapa daerah di Indonesia termasuk Maluku kata dia, memberi pesan pentingnya pencegahan dan mitigasi. Oleh sebab itu, persoalan kebencanaan masa lalu harus diketahui dan dipahami masyarakat, agar jadi bekal dan kesiapan saat bencana kedepan.

“Ini seminar internasional literasi bencana pertama kali dilakukan dan adanya di Ambon dalam rangkaian peringatan pengurangan resiko bencana dunia. Ini upaya kita siap siaga dalam hal pencegahan/antisipasi guna mengurangi resiko bencana,” terangnya.

Dikesempatan yang sama, staf ahli Gubernur Maluku bidang ekonomi dan pembangunan Margareth Samson akui, belajar dari sejarah bencana di Maluku tahun 1950 dan daerah lain, seminar ini diharapkan dapat memberi banyak ilmu dan wawasan bagi semua stakeholder di daerah, sebagai warisan ketangguhan masa lalu, kini dan nanti.

“Ini merupakan momentum perkembangan literasi di bumi raja-raja. Sebab Maluku selain kaya sumberdaya alam, tapi juga miliki potensi kebencanaan yang tak kalah beragam. Kami menanti dukungan BNPB dan semua pihak terkait untuk mewujudkan ketangguhan bencana dimulai dari literasi,” tandasnya.

Dirinya berharap, sejarah kebencanaan dimasa lalu dapat diterjemahkan dan memenuhi ruang-ruang kepustakaan di Maluku. Agar generasi penerus khususnya dapat mengetahui sejarah negeri ini tentang bencana.

Serta menjadi masukan dalam merumuskan kebijakan yang lebih baik lagi dengan berpijak pada sejarah.

Ketua panitia seminar internasional literasi kebencanaan BNPB, Robby Amri katakan,
seminar ini kerjasama dengan Perpustakaan Nasional, Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) dan stakeholder Kementerian/Lembaga lainnya untuk memperkuat visi literasi bencana di Indonesia.

“Seminar ini dilaksanakan dua hari, 13-14 Oktober 2021 secara hybrid, luring dan daring. Peserta dari unsur pemerintah pusat dan daerah 31 persen, akademisi 33 persen, NGO, media, dunia usaha, praktisi bencana, pelajar dan masyarakat 36 persen,” ujarnya.

Dikatakan, seminar dua hari melibatkan
13 pembicara dari Indonesia, United States (US), India dan Jepang, 15 orang reviewer dan 11 juri. (MR-02)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed