by

Ambon Berdoa dan Memuji Tuhan

AMBON,MRNews.com,- Kota Ambon baik pemerintah, aparatur sipil negara, para pendeta/pelayan dan masyarakat khusus beragama Kristen Protestan dan Katolik tua, muda, remaja, anak kecil berdoa dan memuji Tuhan karena penyertaan-Nya luar biasa baik dan indah bagi kota ini meski terus diguncang Gempabumi sedari 26 September lalu hingga kini. Puji-pujian dinaikkan dengan sukacita diiringi trompet, sofar dan musik di Lapangan Merdeka Ambon, Senin (21/10/19). Doa dibawakan oleh pastor Man Oratmangun, pendeta Daniel Samaleling dan pendeta No Pattinaja.

Walikota Ambon Richard Louhenapessy mengawali acara itu katakan, fenomena gempabumi yang sudah berlangsung sejak 26 September hingga kini telah mencapai lebih dari 1700 kali. Dari catatan itu, siapapun di dunia ini bahkan alat canggih dari negara manapun belum ada yang bisa mampu prediksi kapan gempa datang, berapa kali dan kapan berhenti. Karenanya patut disyukuri sebab Tuhan masih menjaga umatNya di kota Ambon sampai detik ini. Pasalnya, bila gempa itu disatukan menjadi satu kali terjadi tentu kota akan porak-poranda.

“Maka dengan berdoa dan memuji Tuhan saja lah. Kita dikuatkan menjalani cobaan ini. Sebab Tuhan Allah bertahta diatas puji-pujian. Kita tak mampu prediksi kapan datang dan berakhirnya bencana, hanya bersyukur bahwa apa yang Tuhan itu baik. Kita minta Tuhan tetap lawat dan berkati kota ini beserta warganya, mengharapkan darinya agar bencana ini segera berlalu, sehingga Ambon, Maluku pulih,” ajaknya.

Sementara, Pendeta Steve Gaspersz dalam khotbahnya sesuai bacaan firman Markus 4 ayat 35-41 menyatakan, semua orang saat ini takut dan cemas. Padahal, tanpa disadari ada satu kekuatan yang tersembunyi dan melihat serta melindungi yaitu Allah sehingga yakin dan percaya menjadi kunci. Dia lantas mengajak untuk berkaca dari sosok Yesus sebagai guru yang tidak menunggu murid di kelas, tapi sering bawa bersama-Nya dengan tujuan tak saja mengajar, tapi juga ingin menunjukkan dan disiplin mempraktekan apa yang diajarkan.

“Tuhan mengerti dan paham kemampuan kita. Dia menaruh kuasa dan hikmat kepada kita. Jadi orang-orang yang berharga di hadapan Tuhan. Jangan sia-siakan berkat yang Tuhan beri. Bukan soal jabatan, kekayaan, kedudukan. Sebab apa yang katong jalani saat ini adalah anugerah Tuhan yang besar dan tidak bisa dibeli apapun. Karena itu penting diingat, seberapa jauh katong menghargai dan mengingat Tuhan setiap saat. Bukan disaat gempa dan bencana saja. Sebab ada gempa-gempa kecil berupa sopi, narkoba, hamba uang dan lainnya yang katong tidak sadari terjadi. Katong juga selalu sombong secara spiritual dan sosial,” ingatnya.

Gaspersz pun menekankan, bila hari ini alam masih bergejolak pertanda manusia harus bersahabat dengan alam setiap saat bukan sebaliknya. Bumi ini hidup, bergerak untuk menyampaikan pesan apa yang dilakukan manusia untuk diatas. Maka dalam keyakinan, Tuhan berbicara lewat alam, pohon, laut, tanah untuk menegur manusia agar berbalik ke jalan benar. Sebab segala sesuatu berjalan dalam rencana Allah.

“Injil Markus ingatkan katong. Bahwa Yesus tidur di buritan kapal karena Dia sudah percaya murid-muridNya. Sebab Dia beri hikmat, pengetahuan. Penekanan kata Diam! Tenanglah!, jelas memberi penekanan bahwa katong sudah biking katong bagian dan biarkan Tuhan melakukan bagiannya. Tenang menghadapi cobaan dan bersaat teduh. Kalau hari ini kita memuji Tuhan, itu berarti kita percaya Tuhan ada dan memberkati Ambon, tidak lepas tangan,” pesannya.

Sedangkan Ketua Persekutuan Gereja-Gereja Indonesia Wilayah (PGIW) Maluku Pendeta Jhon Ruhulessin mengatakan, perjumpaan ini memberi arti bahwa semua umat Kristen di kota Ambon disatukan oleh Tuhan ditengah realitas dan gumul yang tidak bisa dihadapi semua ini sendiri tapi harus bersama-sama dengan Tuhan. Mantan ketua MPH Sinode GPM itu lantas menitipkan lima (5) pesan penting yang digambarkan dengan lima jari manusia.

Pertama, ibu jari; hanya Tuhan yang kita percaya, Dia adalah Tuhan yang hidup. Iman mengajarkan kepada umat Kristen agar selalu rendah hati dan tidak sombong. Jari telunjuk; tunjuklah arah yang benar sebagai orang Kristen, tidak kembangkan hoax. Ajarkan kebenaran, harus takut Tuhan, jadi teladan. Membritakan kebenaran, bukan jadi penyebar hoax, bukan pula percaya kepada mimpi dan penglihatan. Jari tengah; umat Kristen harus berdiri di tengah-tengah semua orang tanpa beda-bedakan, berdiri membangun kota ditengah kemajemukan. Sebab kota akan runtuh jika tidak menghormati kemajemukan.

Kemudian Jari manis: harus jadi warga kota yang manis, laeng sayang laeng, saling menopang. Ini kekuatan dan tanggungjawab, tidak saja tugas walikota dan pemerintah. Terakhir, Jari kelingking; umat Kristen harus dapat memperhatikan orang kecil tanpa bedakan suku, agama, ras. Saat ini banyak yang mengungsi dan tinggal meratapi bantuan, memberi tumpangan harus untuk semua, tanpa membeda-bedakan. Hadirlah bagi mereka juga.

“Intinya dari pesan itu, semua jari itu jika disatukan menjadi kepalan tangan, kita mampu melewati dan melawan badai bencana Gempabumi apapun. Dalam keyakinan Tuhan sertai dan tak akan lepas tangan dari kita,” ungkapnya. (MR-02)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed