by

600 Anak Stunting di Ambon, Sekkot: Sebagian Besar Akibat Kemiskinan

AMBON,MRNews.com,- Pemerintah Kota (Pemkot) Ambon telah menetapkan 38 Desa/Negeri dan Kelurahan sebagai lokus stunting di tahun 2022. Verifikasi dilakukan terhadap 13.122 anak dan hasilnya terdapat 600 anak stunting dengan prevalensi 4,6 persen.

Kondisi ini mengharuskan Pemkot bersinergi dalam anggaran, program dan kegiatan konvergensi untuk percepatan penurunan stunting khususnya bagi pengambil kebijakan di tingkat kelurahan selaku ujung tombak keberhasilan pembangunan manusia seutuhnya yang bersentuhan langsung dengan masyarakat.

Sekretaris Kota (Sekot) Ambon Agus Ririmasse katakan, pencegahan stunting dimasa pandemi haruslah menjadi momentum tepat untuk mewujudkan tujuan pembangunan seutuhnya.

Serta juga melaksanakan pemerataan kesehatan berkelanjutan khususnya bagi keluarga miskin dan rentan miskin. Sebab rumah tangga yang miskin tidak dapat memenuhi kebutuhan gizi anak sehingga anak mudah terkena stunting atau gagal tumbuh.

“Tidak semua keluarga miskin anaknya stunting, tetapi sebagaian besar anak stunting itu diakibatkan karena kemiskinan. Anak mudah kena stunting karena rumah tangga tidak mampu penuhi kebutuhan gizi anak,” tandas Sekkot saat membuka rapat koordinasi sekaligus penguatan kapasitas percepatan penurunan Stunting bagi para Lurah se-kota Ambon.

Dirinya berharap, pasca kegiatan ini semua pihak dapat bersinergi sehingga anak–anak Ambon menjadi anak berkualitas sesuai cita– cita Indonesia Layak Anak 2030 dan Indonesia Emas 2045, yaitu menjadi anak yang cerdas, kreatif, peduli dan memiliki sikap kepemimpinan. Sebab anak terlindungi, Indonesia maju.

Sebab dalam upaya menurunkan angka stunting dibawah 14 persen di tahun 2024 sesuai target program prioritas nasional, Pemkot lewat OPD teknis, bersama Kades/Raja dan Lurah serta stakeholder lainnya, diharapkan dapat bekerja secara terpadu, konvergensi dan komprehensif untuk melaksanakan 8 aksi integrasi stunting.

“Aksi integrasi stunting merupakan strategi penanganan dan wajib dilaksanakan oleh seluruh teknis perangkat perencanaan di kelurahan,” tandas Ririmasse di Hotel All Season Thamrin, Jakarta, Rabu (9/3).

Disebutkan, menurut data terpadu kesejahteraan sosial (DTKS) Kota Ambon per Oktober 2021, jumlah penduduk miskin 36.191 KK atau 147.270 jiwa yang tersebar pada lima kecamatan.

Penyebaran penduduk miskin pada semua wilayah membuat tingkat kesulitan dalam penanganan stunting semakin tinggi, apalagi banyak kepala keluarga yang di PHK di masa pandemi COVID-19.

“Realitanya seseorang yang tidak bekerja otomatis tidak memiliki penghasilan sehingga kesulitan dalam memenuhi kebutuhan gizi keluarga,” pungkas mantan Kadisdukcapil Kota Kupang itu. (MR-02)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed