5.700 Ibu Hamil Diperiksa, 7 Positif HIV

AMBON,MRNews.com,- Hingga Februari 2019, ditemukan oleh dinas kesehatan (Dinkes) Kota Ambon tujuh (7) ibu hamil di Kota Ambon terinfeksi HIV (human immunodeficiency virus). Teridentifikasinya ketujuh ibu hamil ini setelah dilakukannya deteksi dini lewat pemeriksaan wajib terhadap ibu-ibu hamil yang jumlahnya 5.700 orang. Pendeteksian melalui sistem jemput bola bersama LSM dengan menjangkau kelompok resiko tinggi, selain ibu hamil juga lelaki seks lelaki, waria dan pekerja seks komersil (PSK) sebagai potensi penularan paling besar HIV.

“Dinkes lakukan pendeteksian dengan pola jemput bola, terhadap seluruh ibu hamil di Kota Ambon yang memang wajib dideteksi. Dari 5.700 ibu hamil yang diperiksa atau screaning darah di Puskesmas, hasilnya per Februari 2019 ditemukan sebanyak 7 ibu hamil yang adalah penduduk kota Ambon positif mengidap HIV. Mereka lantas diberi obat anti retroviral (ARV) yang wajib diminum rutin agar sembuh dan tak menyerang sistem kekebalan tubuh lainnya,” kata Walikota Ambon, Richard Louhenapessy yang didampingi Sekretaris Kota A.G Latuheru dan Kadinkes Ambon, dr Wendy Pelupessy dalam keterangannya kepada awak media di Biz Hotel Cafe, Sabtu (10/2/19).

Setiap bulan kata Walikota, petugas kesehatan bersama LSM Yayasan Pelangi lakukan pemeriksaan darah kepada karyawan karaoke, cafe, salon, tempah hiburan malam. Bahwa memang ada beberapa salon, karaoke yang menolak diperiksa. Namun kedepan jika masih ada penolakan, Pemkot akan mengambil tindakan dengan memanggil resmi sesuai prosedur dan bila masih bergeming, bisa ditinjau ulang atau mencabut tempat ijin usahanya. Semua ini demi kepentingan masyarakat. Pasalnya, penderita HIV belum tentu AIDS, sebaliknya penderita AIDS dari HIV.

Bahkan tak hanya ibu hamil yang rutin diperiksa, tetapi diakuinya, semua masyarakat serta pengidap TBC pun juga diidentifikasi dengan sarana yang lengkap di dua Puskesmas di Kota Ambon. Dari kegiatan pelacakan dan kesiapan sarana prasarana (Sarpras) Puskesmas, kasus yang rutin oleh petugas kesehatan, jumlah kasus HIV semakin banyak ditemukan, sementara jumlah penderita AIDS semakin berkurang.

“Total penderita HIV/AIDS yang terdata sejak tahun 1994-2018 di Kota Ambon sebanyak 2.279 orang (tidak semuanya warga kota). Contohnya, di tahun 2015 terdapat 31 penderita AIDS dari total 89 penderita ditemukan atau 34,8 persen, tahun 2016 54 penderita AIDS dari total 243 penderita atau 22,2 persen, 2017 terdapat 37 penderita AIDS dari 205 penderita ditemukan atau 18,2 persen, dan 2018 34 penderita AIDS dari 286 penderita atau 11,8 persen,” ujarnya.

Sejak 2010-2013 tambahnya, terdapat 2 Puskesmas yang memiliki klinik volunteri consulting and testing (VCT) untuk deteksi dini HIV. Dimana pada 2017, terdapat 2 Puskesmas yakni Puskesmas Karpan dan Waehaong yang dapat lakukan pengobatan lengkap kepada penderita dan hanya ada di Kota Ambon. Bahkan, sejak 2018 semua Puskesmas sudah punya klinik VCT yang diakses masyarakat untuk pemeriksaan darah HIV. Semua pemeriksaan hingga pengobatan tidak dipungut biaya atau gratis.

“Dengan pelacakan secara kontinyu, pengobatan teratur dan perbaikan pola hidup penderita diharapkan tingkat penularan penyakit semakin berkurang sehingga pada tahun 2030 dapat mencapai target nasional getting 3 zero atau tidak ada infeksi baru HIV, tidak ada yang meninggal akibat HIV/AIDS dan tidak ada diskriminasi orang dengan HIV/AIDS (ODHA),” kuncinya. (MR-02)

News Reporter

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *