by

2.345 Gempa Susulan Terjadi di Ambon, 269 Dirasakan

AMBON,MRNews.com,- Pascagempa bermagnitudo 6,5 SR yang mengguncang kota Ambon, Maluku Tengah dan Seram Bagian Barat (SBB) pada 26 September 2019 lalu, hingga hari ini (kemarin-red) pukul 18.00 WIB atau 20.00 WIT, BMKG masih mencatat aktivitas gempa susulan hingga sebanyak 2.345 kali dengan magnitudo terbesar M=5,6 dan terkecil M=1.0, dirasakan oleh masyarakat terjadi sebanyak 269 kali.

“Gempa 6,5 SR ini sangat destruktif dan menimbulkan korban jiwa puluhan orang. Gempa Ambon juga didahului serangkaian gempa pendahuluan. Sebelum terjadi gempa utama, BMKG mencatat rentetan gempa pendahuluan dengan magnitudo antara 1,5 – 3,5 sebanyak 30 kali sejak 28 Agustus 2019,” ungkap Kepala Pusat Gempabumi dan Tsunami BMKG Rahmat Triyono dalam rilisnya yang diterima media ini, Sabtu (16/11/19).

Sementara pascagempa 7,1 SR yang terjadi di Laut Maluku, Jumat (15/11/19) pukul 00.17 WITA berdampak ke Maluku Utara dan Sulawesi Utara, monitoring BMKG menunjukkan telah terjadi 185 kali aktivitas gempa susulan (aftershocks) dalam berbagai variasi magnitudo dan kedalaman. Gempa susulan dengan magnitudo paling besar yaitu magnitudo 6,1 SR dan terkecil 2,7 SR. Gempa susulan dengan guncangan dirasakan terjadi sebanyak 10 kali.

Dimana gempa laut Maluku memiliki tipe diawali gempa pendahuluan (foreshocks), kemudian terjadi gempa utama (main shock), selanjutnya diikuti serangkaian aktivitas gempa susulan. Sebelum terjadi gempa utama M=7,1, di sekitar lokasi episenter gempa utama telah terjadi dua kali aktivitas gempa pada 12 November 2019 pukul 15.11 WIB dengan magnitudo M=4,4 dan pada 13 November 2019 pukul 18.18 WIB dengan magnitudo M=3,4. Aktivitas dua gempa ini diyakini sebagai gempa pendahuluan dari gempa laut Maluku,

“BMKG juga memantau gempa-gempa susulan di wilayah Bali Utara pasca gempa M=5,0 yang terjadi pada 14 November 2019 pukul 17.21 WITA. Dimana update hingga Sabtu (16/11/19) pukul 18.00 WIB atau 20.00 WIT, tercatat ada 100 kali gempa susulan. Gempa Bali Utara juga didahului gempa pendahuluan pada pukul 17.09 WIB dengan magnitudo M=4,4 dan pukul 17.10 WIB dengan magnitudo 4,6,” tuturnya.

Gempa laut Maluku, Bali Utara, dan Ambon kata dia, meskipun memliki tipe sama, yaitu sama-sama didahului serangkaian gempa pendahuluan, akan tetapi memiliki perbedaan dalam hal sumber gempa dan mekanisme sumbernya. Dimana gempa laut Maluku dipicu oleh adanya deformasi batuan dalam lempeng laut Maluku, Gempa Bali dibangkitkan sumber gempa sesar naik di Utara Bali, dan Gempa Ambon terjadi akibat aktivitas sesar aktif yang belum terpetakan sebelumnya.

“Selain berbeda dalam sumber gempa, ketiga gempa tersebut juga berbeda dalam mekanisme sumbernya. Gempa laut Maluku memiliki mekanisme sumber sesar naik (thrust fault), Gempa Utara Bali memiliki mekanisme sumber kombinasi pergerakan dalam arah mendatar dan naik (oblique thrust), dan Gempa Ambon memiliki mekanisme sesar geser (strike slip),” demikian Triyono. (MR-02)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed