by

Edukasi Berbasis Kearifan Lokal, COVID-19 “Malaikat Pencabut Nyawa”

-Maluku-354 views

AMBON,MRNews.com,- Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 (Gugus Tugas) Nasional Doni Monardo menitipkan pesan kepada Bupati/Walikota se-Maluku agar dalam upaya pencegahan dan penanganan COVID-19 dapat dilakukan melalui sosialisasi kepada masyarakat dengan pendekatan berbasis kerarifan lokal.

Dalam hal ini, Doni memberikan gambaran peran antropolog, sosiolog serta tokoh-tokoh adat dan agama dapat menjadi solusi untuk menyampaikan pesan-pesan mengenai COVID-19, sehingga masyarakat tidak mendapatkan informasi keliru dan dapat menyebabkan keadaan semakin fatal.

“Harus berbasis kearifan lokal. Libatkan antropolog dan sosiolog sebagai solusi. Jangan sampai masyarakat mendapat informasi keliru soal COVID-19. Sebab tidak semua rakyat tahu physical distance, social distance, new normal,” ungkap Doni dalam kunjungan kerja di Ambon, Maluku, Senin (6/7).

Doni Monardo yang juga Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) juga mengingatkan bahwa COVID-19 adalah ‘malaikat pencabut nyawa’, khususnya bagi mereka yang termasuk dalam kelompok rentan dan memiliki penyakit penyerta atau komorbid.

“COVID-19 ini adalah malaikat pencabut nyawa, bagi mereka yang rentan dari segi usia dan memiliki komorbiditas. Memang COVID-19 relatif lebih aman kepada mereka yang sehat, muda, memiliki imunitas tinggi. Kalau terpapar, mungkin dia terinfeksi,” kata Doni.

Lebih lanjut, menurut data yang diperoleh Doni, rata-rata penularan COVID-19 terjadi di masyarakat adalah dari mereka yang positif namun tidak memiliki gejala. Sebab itu, dia meminta seluruh masyarakat tidak menganggap remeh penyakit yang disebabkan virus SARS-CoV-2 itu.

“Di Maluku sesuai laporan pa Gubernur sudah ada 17 warga yang meninggal dan merupakan Orang Tanpa Gejala (OTG). Ini harus menjadi pedoman kita semua. Bahwa COVID-19 bisa ditulari oleh orang-orang yang tidak ada gejala,” jelas Doni.

Disisi lain, Doni juga mengajak agar masyarakat dapat bersungguh-sungguh melakukan upaya pencegahan dengan selalu menerapkan protokol kesehatan, mulai dari menjaga jarak, mencuci tangan dengan sabun dan air yang mengalir dan menggunakan masker.

“Jangan anggap enteng COVID-19. Mari kita ingatkan masyarakat semua untuk bersatu padu, melakukan pencegahan dengan segala keterbatasan yang dimiliki dibidang medis baik dokter, rumah sakit, tempat tidur di rumah sakit. Bahkan dokter paru ada 1 provinsi 1 orang. Sangat terbatas, di Maluku 4 orang,” pintanya.

Selain itu, Doni juga mengingatkan mengenai pentingnya menjaga imunitas tubuh dengan mengkonsumsi makanan yang sehat, bergizi tinggi dan rutin melakukan olahraga. Hal itu menjadi penting, sebab benteng pertahanan yang pertama adalah masyarakat itu sendiri.

“Dokter dan perawat adalah benteng terakhir, benteng pertama itu masyarakat. Begitu banyak keterbatasan yang ada, maka jangan kita bebani masalah kesehatan ini bagi para dokter dan perawat,” tegas Doni.

Dihadapan awak media, Doni juga meminta media massa sebagai bagian dari komponen pentahelix penanggulangan bencana alam dan non-alam lebih masif memberikan pengetahuan dan edukasi kepada masyarakat. Sebab, Doni menilai 63 persen keberhasilan edukasi masyarakat justru ditentukan media.

“Media berperan sangat strategis melampaui elemen lain. Bagi teman-teman media, mari bangun narasi positif untuk menjelaskan bahaya COVID-19, tapi juga jangan menimbulkan ketakutan, kepanikan. Kita harus dorong rasa optimis agar bisa terhindar dari COVID,” tutupnya. (MR-02)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed