by

Meneropong Tantangan & Solusi “Belajar Daring” dari SMA Negeri 14 Maluku Tengah

-Opini-560 views

Oleh : Thobita Cornelia Dias, S.Pd, M.Pd (Guru SMAN 14 Maluku Tengah)

AMBON,MRNews.com,- Secara global, semua aspek kehidupan pada saat ini mengalami dampak negatif yang signifikan dari Pandemi Covid-19, termasuk pendidikan.

Dunia pendidikan di Indonesia juga turut merasakan dampaknya, sehingga memaksa pemerintah Indonesia mengambil berbagai langkah dan kebijakan strategis untuk menjamin tetap terlaksananya penyelenggaraan pendidikan dimasa pendemi Corona ini, sebagaimana tertuang dalam Surat Edaran Menteri pendidikan Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 2020 tentang Pelaksanaan Kebijakan Pendidikan dalam Masa Darurat Penyebaran Corona Virus Disease (Covid-19).

Implementasi dari kebijakan ini mewajibkan pendidikan dikelola dengan cara diluar daripada kebiasaan selama ini (Pra pendemi Covid19), intinya kegiatan belajar mengajar tetap berjalan, meskipun dari rumah masing-masing menggunakan media daring (online) dengan akses internet sebagai tumpuan utamanya.

Metode pembelajaran dengan memanfaatkan teknologi, sebagaimana dianjurkan oleh pemerintah merupakan jawaban dalam merespon keadaan saat ini tetapi disisi lain merupakan suatu tantangan tersendiri bagi guru, peserta didik dan orang tua.

Memang, pembelajaran online dapat mengasah dan merangsang siswa agar lebih mandiri dan kreatif, namun pada kenyataannya, siswa dibebani oleh tugas sekolah setiap kunjungan, sesuatu yang berada jauh diluar kebiasaan belajar mengajar era sebelumnya (pra covid 19) . 

Bila diperhatikan dengan seksama maka ternyata banyak faktor yang menghambat pelaksanaan belajar daring (online), sejauh ini dapat kita rumuskan sebagai; Pertama, rendahnya pengetahuan akan teknologi, artinya tidak semua guru cakap dalam penggunaan teknologi, keadaan ini juga hampir sama dirasakan oleh para siswa karena tidak semua siswa menggunakan teknologi dalam kehidupan sehari-hari. 

Kedua, terbatasnya jaringan internet. Artinya sebagai penunjang utama pelaksanaan kegiatan pembelajaran online maka koneksi jaringan internet yang terbatas dan tidak stabil sangat mempengaruhi kesuksesan kegiatan daring, selain itu kita diperhadapkan dengan fakta bahwa internet yang baik stabil belumlah menjangkau semua wilayah di Indonesia. Kualitas jaringan internet diwilayah perkotaan berbeda jauh dengan wilayah pelosok dan pedesaan.

Ketiga, biaya jaringan internet sebagai modal untuk melakukan pembelajaran berbasis online semakin menguras isi kantong mengingat tidak semua guru, murid dan orang tua berada pada taraf ekonomi yang sama, apalagi keadaan ekonomi yang tergoncang akibat pendemi Covid19 ini mengakibatkan banyak orang tua peserta didik yang pendapatannya berkurang bahkan kehilangan pekerjaannya.

Di Maluku yang kondisi geografisnya kepulauan, akses internet yang terbatas, energi listrik yang belum menjangkau pelosok kepulauan, serta kondisi ekonomi lemah guru, siswa dan orang tua sudahlah pasti akan menjadi suatu tantangan baru dalam penyelenggaraan pembelajaran daring ini.

Dalam pandangan saya, keadaan semacam ini perlu dihadapi oleh semua pihak khususnya pemerintah (pusat hingga desa) dengan berbagai langkah strategis pula, mungkin ada alokasi anggaran khusus yang diberikan untuk meringankan beban guru dan siswa dan orang tua.

Masalah sesungguhnya justru berada pada kondisi ekonomi orang tua siswa kami yang tidak merata serta cukup terganggu tingkat pendapatannya akibat pendemi Covid19 ini, sebagian besar mereka berprofesi sebagai tenaga buruh, supir, petani dan nelayan yang domisilinya tersebar pada 3 negeri (Desa) Hatu, Lilibooy dan Allang.

Menurut saya dalam masalah ini, bila pemerintah pusat, provinsi dan kabupaten /kota belum sempat memberi perhatian, maka seharusnya pemerintah desa mengambil alih sedikit peran mulia yang terlupakan tersebut, toh ujungnya turut serta berpartisipasi dalam mencerdaskan kehidupan bangsa sebagaimana termaktub dalam alinea keempat pembukaan UUD 1945.

Jauh sebelum wabah covid-19 terjadi, telah dibuat kesepakatan (MOU) antara pihak SMA Negeri 14 Maluku Tengah bersama ketiga pemerintah negeri tempat tinggal siswa kami yakni Negeri Hatu, Liliboy dan Alang yang isinya memuat kesediaan pemerintah negeri setempat untuk turut serta membantu para siswa kami dinegerinya masing-masing.

Saat ini adalah waktu yang tepat bagi ketiga pemerintah desa tersebut untuk mengimplementasikan niat mulia dalam MOU itu, dengan turut serta membantu siswa kami sehingga mereka bisa belajar dari negeri setempat dengan tetap mengedepankan protokol Covid19.

Selanjutnya, untuk teknis pelaksanaan kegiatan pembelajaran secara online ini maka para siswa di setiap negeri (desa) dibagi dalam beberapa kelompok belajar dan di koordinir oleh seorang guru, tiap kelompok belajar terdiri dari 5 orang siswa (atau menggunakan laptop milik siswa yang punya) dan proses belajar dapat langsung diikuti oleh siswa dalam kelompok masing-masing dengan tetap menerapkan protokol kesehatan

Dalam pandangan saya, untuk fasilitas penunjang kegiatan belajar daring ini juga bisa menggunakan iPad milik sekolah yang dibeli menggunakan dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) afirmasi dimana siswa dapat menggunakannya masing masing dengan pulsa yang dibeli dari dana patungan (Share) pihak sekolah dan orang tua.

Sedangkan untuk guru bisa dibagi tugas sesuai jadwal mengajar. Bila giliran mengajarnya tiba sesuai jadwal, maka mereka wajib hadir di sekolah untuk mengajar melalui sistem daring dari Laboratorium IT sekolah, sedangkan bagi Guru yang tidak memiliki jadwal mengajar tidak ke sekolah dan “Tado dirumah jua” sesuai anjuran pemerintah ditengah pendemi covid 19 ini.

Jikalau semua pandangan yang telah saya uraikan diatas dapat dilaksanakan, artinya terwujudnya suatu kerjasama yang sinergis dan terpadu antara sekolah, Guru, Siswa, orang tua serta pemerintah desa (domisili siswa) maka aneka kendala yang ditemui dalam pelaksanaan kegiatan belajar online di sekolah menengah atas khususnya SMA negeri 14 Maluku Tengah dapat teratasi.

Saya sadari bahwa memang tidak semua sekolah bisa melaksanakan belajar online sebab ketersediaan jaringan internet merupakan prasyarat terwujudnya kegiatan ini.

Lain halnya dengan sekolah-sekolah yang bisa menjangkau dan terjangkau jaringan internet seperti SMA Negeri 14 Maluku Tengah yang berlokasi dinegeri Hatu, jaraknya relatif dekat dengan kota Ambon sebagai ibukota provinsi, sehingga akses jaringan internet bukan menjadi kendala disekolah ini.

Pendidikan sejatinya berada pada jajaran Investasi terbaik suatu bangsa, sebab lewat pendidikan maka terlahirlah generasi-generasi hebat penerus harapan bangsa.

Sebagai guru kami berupaya sedapat mungkin beradaptasi dengan cepat terhadap kondisi ini, apadtif dalam pikiran dan tindakan agar seluruh tugas dan tanggungjawab yang kami emban dapat didharma baktikan secara baik demi mencetak generasi bangsa kedepan.

Kami tidak mungkin memberlakukan sistim belajar mengajar tatap muka seperti sebelumnya ditengah meningkatkan jumlah pasien terkonfirmasi Covid19 kabupaten Maluku tengah yang mendekati angka 150 pasien.

Sebagian orang menganggap bahwa pendemi Covid19 adalah suatu perang global dimana manusia berupaya menggunakan semua potensi yang dimilikinya untuk mengatasi musuh yang tak terlihat dan tak tersentuh ini.

Bila keadaan ini adalah perang, maka ingatlah kepada kalimat paling legendaris “Ato nan-ri no sensei ga nokotte imasu ka?” Dari Kaisar Hirohito sewaktu Tahun 1945, ketika Jepang kalah perang dunia II dari Amerika setelah kota Hiroshima dan Nagasaki menderita akibat Bom Atom. Sang Tenno bertanya kepada jenderal dan para menterinya tentang ” Berapa Jumlah Guru yang tersisa?”.

Semoga naskah pendek ini bisa memberi kontribusi positif bagi pengembangan pendidikan dimaluku ditengah pendemi Covid19 yang tengah kita alami dan hadapi bersama.

Semoga semua pihak menyadari akan pentingnya kerjasama bagi terselenggaranya kegiatan mencerdaskan kehidupan bangsa ditengah tantangan dan situasi sulit yang kita alami bersama. (**)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed