by

100 Mahasiswa IAKN Ambon Dilatih Kemampuan Bersastra

-Pendidikan-807 views

AMBON,MRNews.com,- Sebanyak 100 orang mahasiswa Institut Agama Kristen (IAKN) Ambon dilatih mengembangkan kemampuan bersastra melalui workshop pengembangan bahasa. Selain memperkaya pengetahuan tetapi melalui kegiatan itu ada pengalaman didapat berkaitan dengan bedah sastra novel dan film.

Hal ini dimaksudkan untuk meningkatkan minat bakat mahasiswa dalam era kompetitif juga digital. Dengan demikian, output mahasiswa IAKN Ambon sebagai generasi milenial dalam bidang sastra akan menjadi lebih baik kedepannya termasuk terlibat aktif dalam berbagai kompetisi di bidang sastra. Karena itu praktisi sastra dan akademisi dihadirkan guna memperkaya khasanah generasi milenial sebagai calon sastrawan.

Saat membuka workshop mewakili Rektor, Ketua Lembaga Penjaminan Mutu (LPM) IAKN Ambon Herly Lesilolo menyatakan, merasa bertanggungjawab dan sangat mengharapkan supaya kegiatan ini berlangsung secara rutin. Sebab salah satu butir-butir borang akreditasi untuk perguruan tinggi membutuhkan kajian-kajian mahasiswa juga, sebagaimana instrumen terbaru sekarang. Karena itu dosen dan mahasiswa harus sama-sama terlibat untuk kegiatan pengembangan akademisi.

Untuk unit bahasa lewat workshop ini diakuinya, bukan merupakan suatu program biasa-biasa. Karena setiap kegiatan yang namanya pengembangan, itu ada produk dan diharapkan memang produknya juga tidak mati, harus selalu berkembang dan bermanfaat di masyarakat. Meski memang ciri IAKN yang adalah Kristen, kadang-kadang mempengaruhi presepsi masyarakat terhadap IAKN. Maka IAKN harus keluar dengan menyatakan ciri itu adalah keKristenan akademisi.

“Artinya keKristenan yang mengembangkan profil-profil akademisi yang sangat bermanfaat di masyarakat. Salah satunya adalah mahasiswa diharapkan ditempatkan dimana saja punya kemampuan mengembangkan bahasa dengan teknik-teknik bedah sastra, kemudian menuliskan jurnal dan karya ilmiah itu bagian yang sangat penting dari pengembangan seorang akademisi, agar dapat diminati masyarakat,” ungkapnya di Golden Palace Hotel, Selasa (10/12/19).

Apalagi media-media teknologi yang berkembang sekarang lanjutnya, membuat mahasiswa juga malas untuk membaca. Tapi proses membedah sastra ini juga membutuhkan ketekunan, sehingga harus dilatih. Sebab jika memilih antara novel dan media online, pasti novel ditinggalkan. Walau sebetulnya isi novel itu kalau dibaca bisa larut dalam cerita dan media online hanya kepuasan sesaat. “Mahasiswa harus disadarkan disitu. Agar kebiasaan membaca meningkat dan menghasilkan tulisan ilmiah itu terwujud,” pungkasnya.

Ketua panitia workshop pengembangan bahasa Rudolf Wattimena katakan, workshop yang terselenggara selama sehari ini mengangkat tema “Ekspresikan diri dalam Kesintasan Bahasa Melalui Bedah Sastra”. Sebab sastra telah menjadi sebuah media kompetisi di berbagai jenjang pendidikan termasuk perguruan tinggi dengan tingkatan pemahaman yang tinggi pula. Dengan narasumber yakni Dr Evert Souisa, M.Pd dan Dr Elka Anakotta, M.Si. (MR-02)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed